Ketika tak seorang pun mengerti apa yang telah aku alami, aku
rasakan. Haruskah aku bercerita dengan seseorang ataukah hanya aku yang tahu.
Rasa yang begitu aneh yang kurasakan, terkadang datang dan terkadang pergi
entah kemana.
Entah sebuah rasa penyesalan, ataukah rasa-rasa yang lain.
Aku sendiri pun tak tahu sebuah rasa apakah ini. Yang aku tahu hanya sakit yang
membuat otakku tak mampu berfikir jernih dan membuatku selalu gelisah.
Seolah-olah aku tak terkendali bahkan terkadang tak bisa mengendalikan diri
untuk selalu bisa tenang.
Dan jika itu telah terjadi maka hanya air mata yang mengerti
semua ini, hanya sebuah air mata yang bisa mengartikan sebuah rasa ini.
Meskipun semua ini belum mampu membuatku tenang. Tapi setidaknya dengan tetesan
air mata ini aku bisa merasa sedikit lega.
Aku ingin menyembunyikan rasa ini dari semua orang, bahkan
aku akan menyembunyikannya dari kedua orang tuaku. Aku tak ingin melihatnya
terluka, sedih ataupun melihat mereka menanggis. Cukup disini mereka merasakan
luka karna aku. Aku ingin melihat mereka tersenyum dan bahkan tertawa dan
merasa bangga mempunyai anak seperti aku. Tapi kapan itu menjadi sebuah
kenyataan yang benar-benar mereka rasakan. Mereka merasa bangga dengan aku,
bahkan mereka sampai menanggis karena bahagia mempunyai anak seperti aku.
Sekali lagi aku hanya bisa berharap semua itu akan terjdi dikehidupanku ini.
Walau harapannya hanya tipis. Tapi aku akan menunggunya, entah kapan akan
kualami.
Mungkin seperti inilah aku menyembunyikannya dari semua
orang. Sebenarnya aku tidak ingin melihatkan kesedihanku kepada semua orang dan
aku ingin mereka berpikiran bahkan aku selalu ceria dan seolah-olah tidak ada
masalah yang menghampirku. Keinginanku
seperti itu, tapi pada kenyataannya sepasang mata dan raut wajahku yang
terkadang murung itulah yang bisa mereka baca dariku. Terkadang mereka tahu
kalau kesedihan sedang menimpaku.
Hanya suara gitar yang bisa menetralkan ketegangan ini secara
perlahan dan sedikt demi sedikit akan menghilang. Dan terkadang es cream juga
bisa membantu membekukan pikiran-pikiran yang negatif. Keduanya membantuku
untuk menetralkan diriku. Bahkan sampai saat ini aku masih melakukannya, jika
rasa kesedihan sedang menimpaku.
Dan sampai saat ini aku hanya bercerita tentang apa yang
sedang aku alami hanya kepada zat sang maha pencipta. Aku mempercayainya dan
hanya mempercayainya dangan seperti ini aku merasa tenang karna sudah membagi
kisahku dengan sang pencipta dan aku yakin Dia akan membuat semua ini menjadi
mudah sehingga aku bisa melewatinya dengan mudah walau seringkali rasa sakit
dan gelisah menimpaku.
Aku bahkan tak mempercayai sahabat dan terkadang tak
mempercayai pacar. Bukannya apa-apa, hanya saat bercerita kepada mereka aku
kurang puas karna mereka terkadang mempunyai masalah masing-masing. Jika ingin
bercerita kepada mereka aku sering merasa tak enak hati dan takut menganggu
mereka. Dan jika pacar, aku tak mau dia tahu kesakitanku ini, karna aku tak mau
dia dan bahkan siapapun mengkhawatirkanku. Mungkin dia sering bilang, “kalau
kamu ada masalah certain ke aku, dan sebaliknya.” Tapi terkadang aku
menyembunyikannya. Karna aku tak kuat dan tak punya keberanian untuk
menceritakan kepadanya.
Sampai dia pernah berpikir “kamu ngak percaya sama aku.” Dan
aku hanya menjawab bukannya aku tak mempercayaimu tapi terkadang aku hanya
ingin sendiri merasakan semua ini. Sampai membuatnya salah paham dan pada
akhirnya tak ada hubungan lagi hanya karna itu. Aku tak akan menyesal, aku
hanya merelakan dia pergi. Dan berpikir kalau itu adalah keputusan terbaik yang
dia ambil.
Setelah beberapa waktu, dia mengetahui dan menyadari bahwa
aku mengalami masalah itu. Lalu dia minta maaf dan ingin kembali seperti dulu
lagi. Tapi aku sudah tak bisa, karna aku telah melupakannya dan bahkan
melupakan semua tentang kita…
~ Mianhamnida Gwa Gomapseumnida ~