Sabtu, 30 April 2016

Sebuah Rasa


Ketika tak seorang pun mengerti apa yang telah aku alami, aku rasakan. Haruskah aku bercerita dengan seseorang ataukah hanya aku yang tahu. Rasa yang begitu aneh yang kurasakan, terkadang datang dan terkadang pergi entah kemana.
Entah sebuah rasa penyesalan, ataukah rasa-rasa yang lain. Aku sendiri pun tak tahu sebuah rasa apakah ini. Yang aku tahu hanya sakit yang membuat otakku tak mampu berfikir jernih dan membuatku selalu gelisah. Seolah-olah aku tak terkendali bahkan terkadang tak bisa mengendalikan diri untuk selalu bisa tenang.
Dan jika itu telah terjadi maka hanya air mata yang mengerti semua ini, hanya sebuah air mata yang bisa mengartikan sebuah rasa ini. Meskipun semua ini belum mampu membuatku tenang. Tapi setidaknya dengan tetesan air mata ini aku bisa merasa sedikit lega.
Aku ingin menyembunyikan rasa ini dari semua orang, bahkan aku akan menyembunyikannya dari kedua orang tuaku. Aku tak ingin melihatnya terluka, sedih ataupun melihat mereka menanggis. Cukup disini mereka merasakan luka karna aku. Aku ingin melihat mereka tersenyum dan bahkan tertawa dan merasa bangga mempunyai anak seperti aku. Tapi kapan itu menjadi sebuah kenyataan yang benar-benar mereka rasakan. Mereka merasa bangga dengan aku, bahkan mereka sampai menanggis karena bahagia mempunyai anak seperti aku. Sekali lagi aku hanya bisa berharap semua itu akan terjdi dikehidupanku ini. Walau harapannya hanya tipis. Tapi aku akan menunggunya, entah kapan akan kualami.
Mungkin seperti inilah aku menyembunyikannya dari semua orang. Sebenarnya aku tidak ingin melihatkan kesedihanku kepada semua orang dan aku ingin mereka berpikiran bahkan aku selalu ceria dan seolah-olah tidak ada masalah yang menghampirku.  Keinginanku seperti itu, tapi pada kenyataannya sepasang mata dan raut wajahku yang terkadang murung itulah yang bisa mereka baca dariku. Terkadang mereka tahu kalau kesedihan sedang menimpaku.
Hanya suara gitar yang bisa menetralkan ketegangan ini secara perlahan dan sedikt demi sedikit akan menghilang. Dan terkadang es cream juga bisa membantu membekukan pikiran-pikiran yang negatif. Keduanya membantuku untuk menetralkan diriku. Bahkan sampai saat ini aku masih melakukannya, jika rasa kesedihan sedang menimpaku.
Dan sampai saat ini aku hanya bercerita tentang apa yang sedang aku alami hanya kepada zat sang maha pencipta. Aku mempercayainya dan hanya mempercayainya dangan seperti ini aku merasa tenang karna sudah membagi kisahku dengan sang pencipta dan aku yakin Dia akan membuat semua ini menjadi mudah sehingga aku bisa melewatinya dengan mudah walau seringkali rasa sakit dan gelisah menimpaku. 
Aku bahkan tak mempercayai sahabat dan terkadang tak mempercayai pacar. Bukannya apa-apa, hanya saat bercerita kepada mereka aku kurang puas karna mereka terkadang mempunyai masalah masing-masing. Jika ingin bercerita kepada mereka aku sering merasa tak enak hati dan takut menganggu mereka. Dan jika pacar, aku tak mau dia tahu kesakitanku ini, karna aku tak mau dia dan bahkan siapapun mengkhawatirkanku. Mungkin dia sering bilang, “kalau kamu ada masalah certain ke aku, dan sebaliknya.” Tapi terkadang aku menyembunyikannya. Karna aku tak kuat dan tak punya keberanian untuk menceritakan kepadanya.
Sampai dia pernah berpikir “kamu ngak percaya sama aku.” Dan aku hanya menjawab bukannya aku tak mempercayaimu tapi terkadang aku hanya ingin sendiri merasakan semua ini. Sampai membuatnya salah paham dan pada akhirnya tak ada hubungan lagi hanya karna itu. Aku tak akan menyesal, aku hanya merelakan dia pergi. Dan berpikir kalau itu adalah keputusan terbaik yang dia ambil.
Setelah beberapa waktu, dia mengetahui dan menyadari bahwa aku mengalami masalah itu. Lalu dia minta maaf dan ingin kembali seperti dulu lagi. Tapi aku sudah tak bisa, karna aku telah melupakannya dan bahkan melupakan semua tentang kita…
~ Mianhamnida Gwa Gomapseumnida ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar